Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Agustus 2014

2:46 PM -

Mam, Mother, the best teacher in the world

Di Jepang ada namanya “kyoiku mama” (ibu pendidikan) para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja, tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak2 mereka mulai bangun, berangkat pulang sekolah, kursus, les, sampai tidur lagi, semuanya di bawah didikan sang ibu.
Para kyoiku mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka, rata2 mereka lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier tapi “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.
Dan kemajuan ekonomi Jepang adalah karena ditopang oleh kyoiku mama ini makanya tidak heran kalau orang Jepang itu disiplin, etos kerja tinggi, menjaga kebersihan itu semua hasil didikan para
kyoiku mama, sehingga sekolah hanya untuk menstransfer ilmu saja.
Sementara “Ryousai kenbo” adalah slogan yang kembali digalakkan pemerintah Jepang, istilah ini muncul di jaman restorasi Meiji dan banyak dianut keluarga Jepang untuk mewujudkan keluarga harmonis ideal.
Ryousai: istri yg baik
Kenbo: ibu yang bijaksana
Intinya menyerukan bahwa wanita peran terhormat sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki.
Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya dan peran lelaki jadi menteri luar negri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.

Sabtu, 05 Desember 2009

10:22 AM - No comments

Tradisi Bertamu


Indonesia merupakan negara yang penuh dengan budaya dan sangat bervariasi ragamnya. Mulai dari daerah Aceh sampai dengan daerah Papua terdapat beragam budaya yang menjadi aset bangsa kita. Mulai dari pakaian, makanan, rumah, kebiasaan setiap daerah pasti memiliki keunikan. Nah dari itu negara kita menjadi negara yang kaya akan budaya yang wajib untuk kita lestarikan.
Dari Bermacam macam budaya yang ada diIndonesia, saya akan coba membandingkan salah satu budaya yang ada dinegeri ini. Yang akan saya bandingkan adalah kebiasaan makan dan bertamu didua daerah yang berbeda, Magelang,Jawa tengah dan Ketapang, kalimantan Barat. Saya pernah tinggal didaerah Jawa Tengah tepatnya di kabupaten Magelang. Di sana sangat kental sekali dengan nilai nilai kesopanan, tradisi bertamu misalnya, ketika kita disujguhkan dengan sajian sajian hidangan berupa makanan atau pun minuman, kita tidak dianjurkan untuk menghabiskannya, alasannya karena mereka menganggap bahwa tindakan itu tidak sopan. " seperti tidak pernah makan saja, sengguh memalukan" ungkapan itulah sering di dengung dengungkan orang tua saya saat saya bertamu ketempat kerabat kami di Magelang. Begitu juga dengan minuman, pasti setiap ada tamu yang berkunjung ditempat kami umumnya menyisakan setengahnya. Selain itu, jika tamu kita ditawarkan dengan makan (Makan nasi lengkap) dirumah kita pasti mereka awalnya menolak dan akhirnya setelah dipaksa barulah mereka mengikuti kemauan kita dan biasanya mereka hanya mengambil sedikit saja makanannya. Nah itulah uniknya tradisi orang Magelang yang sangat menjunjung tinggi harga diri.
Berbeda dengan masyarakat sekitar tempat tinggal saya sekarang. Daerah ketapang kental dengan budaya melayunya yang masih terjaga hingga kini. Tradisi mereka dalam bertamu adalah menggunakan prinsip " Harus dihabiskan" artinya misalnya kita bertamu ketetangga atau teman kita diharuskan untuk menghabiskan makanan/ minuman yang telah disajikan kepada kita, jika tidak maka tuan rumah akan merasa marah, dan jika dihabiskan mereka akan merasa senang dan bangga. sangat berkebalikan dengan tradisi di Magelang. Selain itu, jika kita bertamu, dan pada saat itu tepat waktunya tuan rumah sedang memasak apapun misalnya Sayur,ikan rebus, kue dll, pasti kita diberi kesempatan untuk mencicipinya walaupun cuma secuil ataupun hanya sekilas menyentuhnya, masyarakat ketapang menyebutnya "PUSA'" sebuah tradisi turun temurun warisan nenek moyang. Saat bertamu, tamu dianggap seperti saudara sendiri dan merasa seperti rumahnya sendiri, jadi makan minum terserah tamu bahkan tamu pun mengambil sendiri air minum dan piring didapur itu sudah biasa. berbeda dengan tradisi jawa, makan dan minum yang disuguhkan dimeja makan yang ada disantap dan umumnya masih merasa malu malu dengan Tuan rumah.
Nah itulah sekilas tentang pengalaman tradisi yang ada disekitar saya, tradisi tersebut merupakan sebagian kecil dari budaya warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan bersama. terimakasih